DANAUTOBA.WAHANANEWS.CO- Sekretariat Bersama Gerakan Oikumenis untuk Keadilan Ekologi Sumatera Utara (Sekber Gokesu) yang difasilitisasi Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta Jacklevyn Frits Manuputty di Gedung PGI Jalan Salemba, Jakarta. Lokakarya bertema Menata Ulang Wilayah Eks Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) PT TPL berlangsung di Jakarta, Kamis (5/2/2026) sore.
Diskusi ini menghadirkan empat pembicara, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PB AMAN) Ibu Rukka Sombolinggi, Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) ibu Dewi Kartika, Ketua Umum Sekber Gokesu Pastor Walden Sitanggang OFMCap dan Ketua Divisi Sekber Gokesu Pendeta Mardison Simanjorang.
Baca Juga:
Bobby Nasution Janji Kirim Surat Rekomendasi Tutup TPL ke Pusat
Turut memberi sambutan Ketua Umum PGI (2024–2029) Pendeta Jacklevyn Frits Manuputty. Sekretaris Umum PGI Pendeta Darwin Darmawan, serta Ketua Umum PGI (2019-2024) Pendeta Gomar Gultom, Sekretaris Eksekutif PGI Pendeta Etika Saragih dan puluhan orang hadir memenuhi aula lantai III PGI.
Saat sesi tanya jawab, Leo Hutagalung, seorang penatua HKBP Kebayoran Baru Jakarta, yang juga mengaku panitia acara doa bersama dan aksi damai "Tutup TPL” bersama ribuan umat dan Ephorus HKBP Pendeta Victor Tinambunan di Tugu Proklamasi, Jakarta, pada 18 Agustus 2025, berharap penutupan PT Toba Pulp Lestari (TPL) dilakukan permanen karena telah merusak lingkungan di Tapanuli Raya. Puncak musibah, longsor dan banjir 25 November 2025 menewaskan 375 jiwa, dan belsan ribu menderita.
Leo mengatakan, saat memimpin panitia doa bersama itu, merasakan banyak gangguan yang disebutnya sebagai kuasa kegelapan untuk membatalkan penutupan PT TPL. Namun, kuasa kegelapan itu kalah oleh kekuatan Tuhan.
Baca Juga:
Gereja dan Masyarakat Bersatu, Gerakan Tutup TPL Semakin Masif di Kawasan Danau Toba
Dengan tidak mengurangi rasa simpati dan duka kepada para 2.000-an korban jiwa dan puluhan ribu penderita akibat musibah di Sumatera November lalu, menurut Leo, ada pekerjaan Tuhan di balik peristiwa itu.
"Kita ingat, ada satu banjir melenyapkan semuanya. Ini pun pencabutan izin TPL, pekerjaan langit (Tuhan), bukan kerjanya kita manusia semata. DibuatNya banjir di Sumbar, Sumatera Utara dan Aceh, supaya ada alasan mencabut izin perusahaan itu. Sebab manusia sudah tidak sanggup," kata Leo Hutagalung dalam siaran pers Sekber Gokesu yang diperoleh hari ini, Jumat (6/2/2026).
Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta Jacklevyn Frits Manuputty mengaku kagum dan bangga atas perjuangan Sekber Gokesu yang berujung pencabutan izin PT TPL.