Saya tanya, boru Sirait dari mana? Dari Sirait Holbung. Saya kaget. Eh, kita satu kampung dong. Sirait Holbung itu nggak sampai satu kilometer dari Lumbanlobu. Itoan itu santai saja. Oya? Sudah lupa, karena hanya waktu kecil dulu pernah dibawa orangtuanya pulang ke sana.
Nah, kita harus realis menghadapi yang seperti ini.
Baca Juga:
100 Tahun Sitor Situmorang: Napak Tilas Sang Penyair Melalui Panggung Opera Batak
Kita sekarang sama-sama Batak. Tapi sebenarnya tidak sama lagi. Mungkin hanya kelihatan sama kalau ada pesta. Tapi dalam mindset kehidupan dan budaya, dalam memandang Tano Batak sebagai “bonapasogit”, mungkin sudah berbeda-beda.
Sebenarnya, yang diharap mempersatukan adalah budaya. Bahwa kita suku bangsa yang tua, dengan budaya yang sangat lengkap dan khas. Ada marga-marga, dengan huta-hutanya, ada rumus kehidupan Dalihan Na Tolu, ada rumah Batak, ada gondang, ada tortor, ada ulos, ada yang lain-lain.
Tapi semua akar-akar budaya itu kini kan mulai punah, termasuk di bonapasogit.
Baca Juga:
Mengapa Suku Batak Menjadi Pencetak Sarjana Terbanyak?
Kini tak ada lagi yang bisa membangun rumah Batak. Sudah punah pande rumah dan panggorga.
Kini kita manortor bukan dengan gondang. Sudah hampir habis pande gonsi.
Kini kita manortor bukan dengan ulos Batak asli. Partonun ulos Batak asli tinggal beberapa gelintir.