Kini kita telah menjadi Batak yang marragam-ragam.
Masih Batak. Masih ber-Dalihan Na Tolu. Tapi mungkin nilai-nilai Habatahon yang dianut orang Batak sekarang tidak sama lagi. Sudah dipengaruhi pandangan hidup lain, dipengaruhi sekte-sekte agama, dipengaruhi gaya kehidupan politik, dan macam-macam.
Baca Juga:
100 Tahun Sitor Situmorang: Napak Tilas Sang Penyair Melalui Panggung Opera Batak
Tidak mengingkari ada juga orang Batak yang berbuat dengan niat ikut membangun daerah dan menolong orang di daerahnya. Tapi umumnya untuk kejayaan pribadi.
Best practise perbuatan anak rantau untuk Tano Batak, mungkin Yayasan (SMA) Soposurung, yang merekrut anak-anak muda pintar, mendidik, sehingga semua masuk perguruan tinggi negeri terkemuka.
Lulusan SMA Soposurung kini ada dimana-mana, dan keren-keren. Tapi, apakah mereka ingin kembali dan mengabdi ke Tano Batak?
Baca Juga:
Mengapa Suku Batak Menjadi Pencetak Sarjana Terbanyak?
Ya, saya kira mengutamakan karirnya. Agak pahit, tapi itu nyata. Tano Batak miskin karena membiayai anak-anak. Daerah lain, mengirim dan membawa yang ia dapat pulang ke daerah. Orang Minang juga banyak begitu.
Kita tahu, masyarakat pasti berubah. Kemana arah perubahan itu, tergantung masyarakat itu sendiri. Itu sudah rumus Ilmu Sosiologi.
Kayaknya, orang Batak, harus merumuskan ulang budayanya. Tano Batak harus memformat ulang kehidupan budaya yang baik. Semoga! [mps]