Lanjut Olo, bagaimana mungkin kita menjadi Batak Naraja? Bila dukungan terhadap pelestarian dan pembinaan kecintaan budaya Batak kepada generasi muda tidak mendapat dukungan dari yang empunya program.
“Ketakutan kita budaya Batak akan semakin tergerus oleh budaya asing apabila tidak ditanamkan kepada generasi muda, lantas apa yang akan kita jual di pariwisata kita nantinya? Karena budaya itu mengambil peran penting dalam pariwisata, terlebih Toba merupakan salah satu obyek pariwisata prioritas, " jelas Olo lagi.
Baca Juga:
Tinjau SMP Negeri 2 Satu Atap Borbor, Bupati Toba Upayakan Perbaikan dari Dana Efisiensi
Dikeluhkan Olo, setahun yang lalu di tahun 2021 sudah pernah kita cetuskan kepada Bupati dan Wakil Bupati juga Dinas Pariwisata agar memberikan dukungan, sampai proposal juga sudah kita layangkan untuk bantuan uning -uningan (alat musik tradisional suku Batak) namun hingga hari ini, Jumat (17/6/2022) tak ada realisasi.
Sebelumnya uning-uningan yang dipakai merupakan pinjaman dari warga, namun kini sudah diminta oleh si empunya. Dampaknya anak-anak yang terdiri dari tingkat sekolah dasar, SMP dan SMA yang sempat mendapat pelatihan kini harus berhenti. Karena alat musik tersebut faktor utama pencapaian keberhasilan pelatihan seni budaya Batak.
"Kami mohon kiranya, Pemerintah Kabupaten Toba khususnya Bupati dan Wakil Bupati memberikan perhatian kepada komunitas kami, yang nantinya juga akan memajukan dunia pariwisata Toba dan menjadikan Batak Naraja," pungkas Olo Sirait.
Baca Juga:
HUT Ke-115 Gereja HKBP Pangururan Resort Borbor ke-115, Bupati Toba Ajak Jemaat Jaga Kebersihan
Terpisah, Wakil Bupati Toba, Toni Simanjuntak ketika dihubungi melalui WhatsApp dan kita tanyakan, "Sesungguhnya apa sebenarnya batak na raja? Sesuaikah istilah batak na raja sementara komunitas pelestarian budaya diabaikan oleh pemkab toba? Dengan singkat chatingan Wakil Bupati menjawab, " Nanti akan kita bahas, sebab saya masih di luar kota, " tulis Pak Wakil Bupati, Jumat (17/6/2022). [mps].